Friday, September 3, 2010

Kemewahan wakil rakyat, kemiskinan rakyat

Beberapa hari ini bangsa Indonesia diramaikan dengan pemberitaan media massa yang meluas dan intens tentang rencana pembangunan gedung DPR. Menurut para anggota DPR terutama dari bagian BURT (Badan Urusan Rumah Tangga), ruangan mereka di gedung yang ada saat ini sudah penuh sesak dan kurang layak untuk bekerja secara optimal. Akhirnya muncullah ide untuk membangun gedung baru yang dalam sosialisasinya menjelaskan seperti apa bentuk dan detail gedung tersebut.

Saya pun berpikir, apa yang menjadi masalah dengan hal itu sampai-sampai banyak yang tidak setuju dan seperti biasa, kekuatan media dan rakyat berbicara. Bukankah pembangunan gedung ketika ruangan yang ada saat ini sudah tidak layak adalah sesuatu yang wajar? Ternyata, yang menjadi masalah adalah kemewahan gedung yang akan dibangun itu, mulai dari lantai yang berjumlah 36, kamar istirahat lengkap dengan spring bed, dan ruang rekreasi di lantai atas yang akan memiliki fasilitas kebugaran, spa, dan kolam renang. Ruang kerjanya pun tidak kalah mentereng, luasnya mencapai 120 meter persegi untuk setiap anggota dewan yang terdiri dari ruang kerja anggota, ruang staf ahli dan asisten pribadi, ruang rapat kecil, kamar istirahat, kamar mandi, WC, dan ruang tamu. Terang saja, biaya pembangunan untuk gedung yang seperti itu sangat mahal, 1.6T.

Saya pun geleng-geleng kepala, apakah perlu setiap anggota dewan memiliki fasilitas sebanyak itu? Kamar istirahat, WC, dan ruang rapat untuk setiap anggota DPR, lelucon yang bagus! Ibarat kita adalah karyawan kantor, kita akan mendapatkan ruangan dengan kamar istirahat dan WC pribadi, perkantoran manapun tidak ada yang seperti itu. Belum lagi lantai rekreasi yang sangat mewah. Saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa sih anggota DPR itu datang ke kantor? Mau kerja atau rekreasi?


Yang membuat saya semakin sakit hati adalah ketika membaca sebuah artikel yang diposting oleh teman saya di facebook tentang tanggapan salah satu anggota dewan yang terhormat di link ini. Disitu, salah satu anggota DPR yang merupakan wakil ketua BURT, Pius Lustrilanang, mengungkapkan bahwa tak ada hubungannya antara gedung baru dan rakyat miskin, berikut kutipannya:
"Kalau bicara kemiskinan ya sudah sejak Indonesia merdeka rakyat Indonesia miskin. Tidak ada hubungannya antara pembangunan gedung dengan kemiskinan," ujar Pius Lustrilanang kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (1/9/2010).
"DPR kan menganggarkan untuk rakyat, sudah ada porsinya untuk rakyat dan sudah ada porsinya untuk DPR," papar Pius.
"Kecuali ingin agar DPR yang lebih baik juga ditunda," tutupnya.
Jujur saya sangat tersinggung mendengar ucapan Anda. Ingat bahwa logika umum rakyat kecil, jelata, dan tertindas tidak sama dengan logika anggota DPR yang haus akan tahta dan cenderung materialistis. Uang 1.6T tersebut adalah dari rakyat, dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan untuk kemakmuran wakil rakyat. Memang masih banyak rakyat yang miskin secara ekonomi, namun untuk itulah harus ada DPR yang mewakili dan membela rakyatnya, bukan menyesali bangsa ini miskin sejak dulu. Saya pun juga bisa dengan mudah berkata: tidak ada hubungannya antara DPR yang lebih baik dengan gedung baru yang mewah!


Bagaimana dengan orang miskin? Menurut data dari BPS (Susenas Februari 2010), sampai dengan Maret 2010 terdapat 31.02 juta atau 13.33% orang miskin dari seluruh populasi Indonesia. Jumlah tersebut dapat dirinci, yaitu sebanyak 11.1 juta berada di daerah perkotaan dan 19.93 juta di daerah pedesaan. Perlu diketahui bahwa angka tersebut diperoleh dengan menetapkan aturan batas, yaitu orang yang pengeluarannya kurang dari batas tertentu, yaitu garis kemiskinan, akan dikategorikan sebagai penduduk miskin.

Jangan terjebak dengan angka, kawan! Dari definisi kemiskinan tersebut saja kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa sebenarnya rakyat miskin di Indonesia ada lebih banyak lagi. Mengapa? Karena aturan batas yang menggunakan garis kemiskinan hanya membedakan orang miskin dari pengeluarannya sebulan yang lalu, bisa saja seorang kaya disebut miskin karena sedang berhemat ketika survey Susenas dilaksanakan, atau sebaliknya seorang miskin disebut kaya karena sedang banyak pengeluaran karena ada keperluan darurat. Belum lagi dengan orang yang berada di sekitar garis kemiskinan. Perbedaan pengeluaran dari dua orang yang berbeda bisa sangat tipis, misalkan hanya Rp. 1.000 saja, namun sudah bisa membuat status miskin mereka berdua berbeda jika yang satu berada di bawah garis kemiskinan dan lainnya berada di atas garis kemiskinan, padahal secara kasat mata terlihat bahwa mereka berdua sama-sama orang miskin. Untuk mengantisipasi hal itu misalkan saja saya naikkan garis kemiskinan sebesar 20% sehingga orang yang rawan terhadap kemiskinan pun dihitung, maka akan ada sekitar 56juta orang yang miskin dan rawan untuk menjadi miskin di Indonesia (wow itu sekitar 24% dari seluruh penduduk!). Hmmm, sepertinya 1.6 trilyun akan berdampak jauh lebih besar jika uang dari rakyat tersebut dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyat daripada untuk gedung mewah para wakil rakyat.

Sungguh kemiskinan itu multidimensi. Kita tidak bisa menghakimi seseorang adalah miskin hanya dari uang, kehidupan, atau bahkan dari perasaan mereka sendiri. Bisa saja rakyat yang tinggal di gang-gang sempit lebih kaya karena mereka merasa bersyukur dengan apa yang mereka miliki daripada sebagian para pemimpin negeri ini yang masih merasa miskin karena tidak puas dengan kekayaan yang sudah mereka timbun.

Akhirnya, mari kita berdoa semoga pembangunan gedung baru DPR dapat dicegah dan para pemimpin negeri ini sadar akan amanah yang sedang mereka tanggung untuk rakyat.

 

7 comments:

  1. wow.. you're blogging..
    nice to have someone can speak up their mind..
    hope your blog will be useful for others..

    keep blogging mri..

    ReplyDelete
  2. emang mri, jaman sekarang cara orang berfikir rada aneh. kalo emang bekerja untuk rakyat, mbo ya ga perlu digaji malah. ketauan banget cara berfikir yang sangat egois. malu2in. ga heran gw kalo bangsa ini diinjek2 trus.

    ReplyDelete
  3. @wicha: Eeh ada wicha, makasih yaa udh mampir.. :)
    yup, insya Allah mau belajar nulis lewat blog.. Semoga bermanfaat... ^_^

    @anggi: ini gyo yah?? setuju yo, setuju.. pemikiran dan tindakan seenak jidat aja, malu2in. Mending BURT dibubarin aja..

    ReplyDelete
  4. semangat mri...
    gara2 baca blog lo.. jd inget gw udh ampir setaon gak update livejournal gw.. hahaha..

    thank you for reminding me..

    ReplyDelete
  5. sama2 wiq..
    blog gw sebelum ini malah lebih parah, 3 tahun kali gak diupdate, hahaa... :D

    ReplyDelete
  6. writing is quite fun actually..
    buat ngelepas stress ma buat curcol.. hahaha..
    tp gw belom bisa nulis secara formal..
    kbykan isi jurnal gw cuma curhatan seorang fangirl.. ahahaha..

    *curcol* ^_^

    ReplyDelete
  7. Nice bro,, Chico TL.

    ReplyDelete

What's on your mind? :)