Saturday, December 25, 2010

Eksotisme Batam, Kebijaksanaan Pulau Penyengat

 
Kepulauan Riau dari udara






Hamparan laut biru muda terbentang luas dan seringkali diselingi oleh pulau-pulau kecil dengan pantai putihnya, beberapa dengan hutan lebatnya, memberitahu saya bahwa sebentar lagi pesawat saya akan mendarat. Hantaman roda pesawat dengan landasan pacu bandara internasional Hang Nadim terdengar keras, dan semakin keras, saat pesawat berusaha sekuat tenaga untuk berhenti seakan menghindari benturan dengan tembok besar yang menghadang di depan, walaupun sebenarnya bandara ini memiliki landasan pacu yang paling panjang seantero Indonesia, bahkan lebih panjang daripada bandara Soekarno-Hatta. Semakin lama mesin jet pesawat menderu semakin pelan, menandakan bahwa seluruh penumpang sudah diperbolehkan untuk turun. Saya pun melaju menyusuri lorong panjang, disambut oleh beberapa reklame yang mengucapkan selamat datang di sebuah pulau terdekat dengan kawasan paling maju dan paling modern di asia tenggara.


bot pompong
Ketika keluar dari bandara, seorang supir taxi langsung menjemput untuk mengantarkan saya ke pelabuhan Punggur, tempat banyak kapal ferry bertambat untuk mengantarkan orang-orang ke berbagai pulau di sekitar pulau batam, yang mana tujuan saya adalah kota Tanjung Pinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau yang terdapat di Pulau Bintan. Sesampainya di pelabuhan, langsung saja saya membayar ongkos taxi: sudah ketentuan umum bahwa supir taxi di pulau batam tidak meminta tarif berdasarkan argo, namun berdasarkan kesepakatan di awal. Dengan modal 78ribu rupiah, saya membeli tiket ferry pulang-pergi ke pulau Bintan. Lama perjalanan dengan kapal ferry memakan waktu sekitar 50 menit. Sesampainya di Pulau Bintan, saya langsung bergegas menuju ke tempat banyak perahu bot kecil bertambat (dikenal dengan sebutan bot pompong), siap untuk mengantarkan saya ke Pulau Penyengat menyusul Ibu saya yang sudah menunggu di sana.


Al-Qur'an hasil tulisan tangan bertinta emas
Tujuan pertama saya kala menyambangi Pulau Penyengat adalah Masjid, Ibu saya menunggu saya disana. Masjid di pulau penyengat itu bernama Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Menurut sejarah, masjid ini dibangun pada tahun 1803 oleh Sultan Mahmud menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat. Bangunan masjid yang mempunyai luas 20x18 meter ini dikelilingi oleh empat buah menara tempat bilal mengumandangkan adzan. Di dalam masjid terdapat Al-Qur'an yang ditulis tangan menggunakan tinta emas oleh Abdurrahman Stambul, seorang warga Pulau Penyengat yang pernah dikirim oleh kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama Islam. Pikiran saya pun langsung melayang ke zaman dahulu, membayangkan kegigihan seorang kiyai yang menorehkan tinta emasnya membentuk rangkaian firman Allah di atas lembaran-lembaran kertas.

Setelah bertemu dengan Ibu, perjalanan kami lanjutkan bersama-sama. Dengan menumpangi mocak (baca: motor becak), kami berkeliling Pulau Penyengat untuk melihat makan raja-raja dan warisan budaya di pulau tersebut. Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah kompleks makan raja-raja, yang di tempat tersebut bersemayam Raja Hamidah (Engku Puteri), Raja Ahmad (Penasihat Kerajaan), Raja Alihaji (Pujangga Kerajaan), dan Raja Aisyah (Permaisuri). Di kompleks makan ini terdapat sebuah ruangan besar tempat bersemayamnya Raja Hamidah yang dikelilingi oleh ukiran gurindam 12 yang dipahat di dinding marmer karya Raja Alihaji. Dari 12 pasal yang ada, saya sangat tertarik dengan pasal pertama tentang pentingnya menjaga agama, dan pasal 11 tentang pentingnya amanat. Berikut cuplikan gurindam pasal pertama dan duabelas, untuk membaca seluruh syair gurindam ini, silakan buka halaman tentang gurindam 12. Hmmm.... seandainya para pemimpin negeri ini membaca gurindam dua belas, akankah mereka lebih amanat dalam menjalankan roda pemerintahan? Who knows...

Gurindam I
Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia melarat.

Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hajat.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Balai Adat

Rasa ingin tahu yang besar terus mendorong saya untuk menjelajah tempat lain di pulau nan unik ini. Tibalah saya di suatu bangunan besar. Lantai bangunan tersebut tidak langsung menyentuh tanah, melainkan disanggah oleh susunan pondasi yang menyebabkan bangunan tersebut terlihat seperti rumah panggung. Itulah balai adat pulau penyengat, gagah menantang lautan yang ada diseberangnya, tempat dimana raja dan tuan puteri menyimpan perkakas-perkakasnya. Bagai api yang tak kunjung padam, pesona balai adat tetap terasa saat saya memasuki ruangan tersebut. Di ujung ruangan berdiri pelaminan yang cukup mewah, tanda bahwa dahulu tempat ini juga merupakan tempat dilangsungkannya pesta pernikahan. Di bawah lantai balai, diantara lantai dan tanah, terdapat sebuah sumur yang memiliki mata air jernih. Saya sempat mengambil air dari sumur itu dan meminumnya, segar sekali rasanya. Balai adat cantik ini berseberangan dengan bekas tempat pelabuhan kecil, tempat bertambatnya perahu-perahu di masa lalu namun tidak digunakan lagi sekarang.

Bekas pelabuhan di depan balai adat
Demikian sedikit kisah perjalanan di pulau penyengat yang memiliki raja-raja di masa lalunya. Setelah puas mengelilingi pulau penyengat, saya kemudian kembali ke pulau Batam untuk beristirahat untuk melanjutkan perjalanan ke Singapura dan Johor Bahru keesokan harinya. Hingar bingar Singapura dan pesona kerajaan Johor tidak akan saya bahas disini, lebih baik membuat sebuah artikel terpisah untuk menceritakannya. Singkat cerita, setelah beberapa hari mengitari Singapura dan Johor, saya kembali lagi ke Batam.

Seperti kata Ibu saya, tak lengkap rasanya jika tak menginggahi jembatan Barelang dan makan sea food di pinggir pantai. Akhirnya sebelum terbang kembali ke Jakarta, saya sempatkan mengunjungi jembatan Barelang yang cukup terkenal di Batam. Sebenarnya istilah Barelang mengacu pada enam rangkaian jembatan yang menghubungkan pulau-pulau di sekitar pulau Batam, yaitu antara pulau Batam, Rempang, dan Galang. Pun demikian, ketika orang menyebut jembatan Barelang, biasanya mereka mengacu pada jembatan yang menghubungakan pulau Batam dan pulau Tonton. Karena bentuknya yang indah, jembatan ini lebih berkembang sebagai objek pariwisata daripada sebagai sarana penghubung antar pulau, hal ini ditandai dengan banyaknya mobil yang berhenti di tengah jembatan sekedar untuk berfoto, melihat pemandangan yang indah, dan merasakan segarnya tiupan angin laut.

Jembatan Barelang

Setelah puas menikmati pemandangan yang indah dari atas jembatan, kami memutuskan untuk singgah di restoran pinggir laut. Restoran ini cukup istimewa karena kita dapat memilih sendiri ikan, udang, cumi, kepiting, atau apapun yang ada di penangkaran, untuk kemudian langsung dimasak dengan bumbu yang kita sukai. Dengan metode sajian masakan tersebut, dijamin hidangan yang disajikan benar-benar fresh karena langsung diangkat dari laut.

Dengan berakhirnya kami menyantap hidangan laut, maka berakhir pula petualangan saya di pulau Batam, pulau Bintan, pulau Penyengat, Singapura, dan Johor. Malam itu saya kembali ke Jakarta dengan hati yang puas dan siap untuk kembali bekerja keesokan harinya. :D

keywords: pulau batam, pulau bintan, tanjung pinang, pulau penyengat, kepulauan riau, bandara hang nadim, raja ali haji, gurindam dua belas 12, jembatan barelang, masjid raya sultan riau penyengat, al quran tinta emas, al qur'an tulisan tangan.


No comments:

Post a Comment

What's on your mind? :)