Sunday, February 26, 2012

Segalanya Dimulai dari Diri Sendiri

Beberapa hari yang lalu saya merasa senang ketika saya melihat promo daily deal di kindle, kali ini buku yang sedang diskon adalah 7 Habits of Daily Effective People karya Stephen R. Covey. Sudah lama saya penasaran dengan buku ini, karena sempat booming bertahun-tahun yang lalu namun saya tidak peduli karena memang saya belum tertarik dengan buku semacam ini. Namun kali ini saya tidak ragu untuk membeli versi kindle buku tersebut, selain karena harganya yang sangat murah (hanya $0.99) juga karena saya merasa ada sesuatu yang perlu saya gali dari buku semacam ini. Saya ingin tahu dan sangat penasaran mengapa buku ini bisa menjadi best seller selama bertahun-tahun lamanya dan sampai saat ini tetap nangkring di top 100 kindle best selling books.


Setelah mendalami dan membaca bagian pertama dari buku tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk merangkum apa yang telah saya baca sebagai bagian dari internalisasi dan percepatan pemahaman dari apa yang telah saya baca. Saya jadi ingat kata pepatah, “Ilmu ibarat buruan dan tulisan adalah tali pengikatnya, oleh karena itu ikatlah ilmumu dengan menuliskannya". Begitu pula apa yang tertulis dalam akhir bagian satu buku ini: bahwa ketika belajar kita harus mengubah paradigma kita dari seorang pelajar menjadi seorang pengajar, yang dalam waktu kurang dari 48 jam harus mengajarkan apa yang telah dibacanya kepada orang lain, dengan begitu secara alami kita akan lebih memahami apa yang kita baca karena secara mental kita menyiapkannya untuk diajarkan kepada orang lain. Dalam hal ini, andaikata saya adalah seorang pengajar, maka saya akan menyiapkan bahan ajaran dengan cara merangkumnya.

Bagian pertama dari buku ini benar-benar menerangkan konsep dasar yang perlu dipahami sebelum membaca lebih jauh agar kita bisa memanfaatkan buku ini dengan maksimal. 7 Habits memulai topik dengan pembahasan tentang paradigma, yaitu prinsip atau cara pandang seseorang dalam melihat sesuatu. Masing-masing orang punya paradigma yang berbeda dan penting bagi kita untuk mengetahui apa paradigma kita karena dari situlah segala sikap, tindakan, dan perilaku kita mengalir. Selama bertahun-tahun, Covey meneliti ratusan literatur tentang kesuksesan dan menemukan kenyataan yang mencengangkan bahwa dalam 50 tahun terakhir orang hanya membahas tentang cara gampang dan cepat untuk meraih kesuksesan dengan berfokus pada personality ethics, sedangkan 150 tahun sebelumnya orang lebih fokus kepada character ethics yang lebih sulit untuk diterapkan. Dia menyimpulkan bahwa yang sebenarnya perlu diubah bukanlah personalitas seseorang, namun paradigma atau karakter dasar orang tersebut. Personalitas berasal dari paradigma, sekeras apapun usaha kita untuk merubah personalitas, lambat laun akan kembali pada personalitas kita yang dulu selama kita belum mengubah paradigma berpikir, karena secara alami orang akan bersikap seperti apa yang dipikirkannya, bukan seperti apa yang pura-pura diterapkannya.

Setelah itu, Covey membahas satu hal yang sangat menggugah tentang level baru dalam berpikir, yaitu inside-out. Prinsip inside-out menekankan bahwa segalanya harus dimulai dari diri sendiri: kemenangan pribadi harus mendahului kemenangan orang lain, yaitu berjanji pada diri sendiri jauh lebih penting sebelum berjanji kepada orang lain. Adalah sebuah hal yang sia-sia untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain jika kita belum bisa memperbaiki diri kita sendiri. Kitalah yang mempunyai kunci dari gerbang perubahan diri, hanya diri sendiri yang bisa membukanya dari dalam. Sekeras dan sebaik apapun usaha orang lain untuk membuka gerbang perubahan itu dari luar, tetap diri kita yang memutuskan apakah akan membukanya karena kitalah yang memiliki kuncinya di dalam.

Setelah kita yakin dan bertekad akan berubah menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari, maka selanjutnya Covey memaparkan tentang bagaimana cara yang efektif untuk berubah. Pada dasarnya, karakter kita adalah gabungan dari kebiasaan kita (habits). Seperti kata pepatah, "Menanam ide, menuai tindakan; menanam tindakan, menuai kebiasaan; menanam kebiasaan, menuai karakter; dan menanam karakter, akan menuai tujuan". Kebiasaan sangat sulit untuk diubah karena kebiasaan tertanam dalam pada diri manusia: orang melakukan kebiasaan secara otomatis, spontan, dan tanpa disuruh. Karena sudah mendarah daging, maka kebiasaan sulit untuk diubah. Untung bagi kita jika sudah punya suatu kebiasaan yang baik karena kita hanya perlu menjaganya agar tetap seperti itu, namun bagaimana dengan kebiasaan buruk? Butuh lebih dari sekedar kemauan dan sedikit perubahan dalam hidup untuk mematahkan kebiasaan buruk seperti suka menunda pekerjaan, tidak sabar, tidak suka dikritik, egois, malas, dll. Kebiasaan ibarat gravitasi bumi, gravitasi memiliki energi yang sangat besar dan menarik semua benda untuk mendekat, dan mematahkan atau melatih kebiasaan bagaikan sebuah pesawat luar angkasa yang baru meroket dari bumi: butuh energi yang sangat besar untuk bisa terbang hanya beberapa kilometer dari permukaan bumi, mungkin energi yang dibutuhkan tersebut lebih banyak dari sisa perjalanan ke luar angkasa ketika pesawat tersebut sudah sangat tinggi. Namun ketika sudah di luar angkasa, tidak sulit bagi pesawat tersebut untuk tetap mengorbit bumi. Itulah kebiasaan, pada awalnya sangat sulit untuk dibentuk, butuh tekad, kekuatan, dan lebih dari sekedar semangat untuk mewujudkannya, namun lambat laun akan makin mudah untuk diterapkan karena kebiasaan tersebut akan makin tertanam dalam diri. Orang bisa karena biasa.


Akhirnya, Covey menutup bagian satu dari buku ini dengan sebuah konsep efektifitas, yaitu menciptakan kebiasaan yang efektif. 7 habits adalah kebiasaan yang efektif yang dapat membawa keuntungan jangka panjang karena kebiasaan tersebut berdasarkan pada suatu paradigma efektifitas yang sejalan dengan hukum alam, yang disebut dengan prinsip keseimbangan P/PC (Production/Production Capability). Prinsip ini diilhami oleh dongeng angsa yang bertelur emas. Suatu ketika seorang peternak angsa menemukan telur emas di dalam kandang angsa miliknya. Peternak tersebut sangat kaget, tidak percaya, sekaligus senang karena hal tersebut. Bagaimana tidak gembira, telur tersebut adalah sebuah bongkahan emas murni. Yang lebih mengejutkan adalah ketika pada keesokan harinya peternak tersebut lagi-lagi menemukan telur emas ketika ia membuka kandang angsanya. Hal ini terjadi berhari-hari dan terus menerus hingga sang peternak menjadi seorang yang kaya. Dengan segala hal yang sudah ia dapatkan, ia malah menjadi tamak dan tidak sabar. Pikirnya daripada menunggu setiap hari untuk mendapatkan satu telur emas, lebih baik jika langsung saja potong angsanya dan ambil semua telur emas yang ada di dalam tubuhnya. Maka angsa penghasil telur emas tersebut dipotong dan betapa kagetnya ia ketika menemukan bahwa tidak ada apapun di dalam tubuh angsa tersebut. Kini angsa penghasil telur emasnya sudah mati dan ia malah tidak bisa mendapatkan telur emas lagi untuk selamanya. Secara garis besar, prinsip P/PC adalah keseimbangan antara production (P) dari hasil yang diinginkan, yaitu telur emas, dengan production capability (PC), yaitu aset atau kemampuan dalam menghasilkan telur emas tersebut, sang angsa penghasil telur emas.

Itulah sekilas rangkuman dari bagian pertama buku. Dari apa yang telah saya baca, nampaknya pemanfaatan buku ini harus dibedakan dengan buku lain yang hanya dibaca sekali dan kemudian langsung ditaruh di rak buku. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil untuk merubah karakter diri agar menjadi lebih baik dan jelas bahwa semuanya bukanlah perbaikan yang mudah, it's not a quick fix.

2 comments:

  1. Horeee....
    Jadi Anda sudah bisa beli ebooknya dari Indonesia ya? Kasi tau dong gimana caranya.
    Terimakasih banyak

    ReplyDelete
  2. Sorry pertanyaan gue ga berkaitan sama yang diatas. Ka kalo mau jadi aktuaria atau konsultant keuangan itu bisa dari S1 atau harus S2?gue maba UB matematika

    ReplyDelete

What's on your mind? :)